Jumat, 28 September 2012

PENGOLAHAN HASIL BELAJAR

-->
PENGOLAHAN HASIL BELAJAR
Disusun oleh: Zainal Masri
STAIN Batusangkar
A.    Pendahuluan
Evaluasi merupakan bagian terpenting dalam pendidikan, hal iini untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pembelajaran yang berdasarkan kepada tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Dalam melakukan evaluasi ada beberapa hal yang harus dinilai, diantaranya ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Hasil tes yang dilakukan dalam mengevaluasi materi perlu adanya pengolahan yang objektif agar hasil dari evaluasi tersebu sesuai dengan tujuan evaluasi itu sendiri.
Maka dalam makalah yang kami sajikan ini, pemakalah akan membahas beberapa beberapa hal mengenai pengolahan hasil belajar, diantaranya; Cara Memberi Skor Untuk Domain Psikomotor, Penilaian Acuan Patokan, Penilaian Acuan Norma.
B.    Pembahasan
1.     Cara Memberi Skor Untuk Domain Psikomotor
            Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku).
            Pengukuran ranah psikomotorik dilakukan dengan hasil-hasil belajar yang berupa penampilan. Namun demikian biasanya pengukuran ranah ini disatukan dan dimulai dari pengukuran ranah kognitif sekaligus.[1]
            Jadi wujud nyata dari hasil psikomotor yang  merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif afektif itu, misalkan dalam pembahasan tentang kedisiplinanan dalam Islam[2], yaitu:
a       Peserta didik bertanya kepada guru pendidikan agama Islam tentang contoh-contoh kedisiplinan yang telah ditunjukkan oleh Rosulullah SAW, para sahabat, para ulama dan lain-lain
b       Peseta didik mencari dan membaca buku-buku, majalah-majalah atau brosur-brosur, surat kabar dan lain-lain yang membahas tentang kedisiplinan
c       Peserta didik dapat memberikan penejelasan kepada teman-teman sekelasnya di sekolah, atau kepada adik-adiknya di rumah atau kepada anggota masyarakat lainnya, tentang kedisiplinan diterapkan, baik di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat
d       Peserta didik menganjurkan kepada teman-teman sekolah atau adik-adiknya, agar berlaku disiplin baik di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat
e       Peserta didik dapat memberikan contoh-contoh kedisiplinan di sekolah, seperti datang ke sekolah sebelum pelajaran di mulai, tertib dalam mengenakan seragam sekolah, tertib dan tenag dalam mengikuti pelajaran, di siplin dalam mengikuti tata tertib yang telah ditentukan oleh sekolah, dan lain-lain
f        Peserta didik dapat memberikan contoh kedisiplinan di rumah, seperti disiplin dalam belajar, disiplin dalam mennjalannkan ibadah shalat, ibadah puasa, di siplin dalam menjaga kebersihan rumah, pekarangan, saluran air, dan lain-lain
g       Peserta didik dapat memberikan contoh kedisiplinan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, seperti menaati rambu-rambu lalu lintas, tidak kebut-kebutan, dengan suka rela mau antri waktu membeli karcis, dan lain-lain, dan
h       Peserta didik mengamalkan dengan konsekuen kedisiplinan dalam belajar, kedisiplinan dalam beribadah, kedisiplinan dalam menaati peraturan lalu lintas, dan sebagainya.
Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi:
a       Gerak refleks
b       Gerak dasar fundamen
c       Keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi
d       Keterampilan fisik
e       Gerakan terampil[3]
f        Komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
          Lembar observasi
          Beri Tanda (√)
Nama Siswa
Mengerjakan Tugas (On-Task)
Tidak Mengerjakan Tugas (Off-Task)
Catatan Guru
Damar



Ayu



Dst…..



Tabel Instrumen (alat) Asesmen Kinerja (unjuk kerja) Berpidato dengan numerical Rating Scale
Nama : …………………………………
Kelas : …………………………………
Petunjuk:
Berilah skor untuk setiap aspek kinerja yang sesuai dengan ketentuan berikut:
 (4) bila aspek tersebut dilakukan dengan benar dan cepat
 (3) bila aspek tersebut dilakukan dengan benar tapi lama
 (2) bila aspek tersebut dilakukan selesai tetapi salah
 (1) bila dilakukan tapi tidak selesai
 ( 0 = tidak ada usaha)
No
Aspek yang dinilai
Skor
4
3
2
1
1.
Berdiri tegak menghadap penonton




2.
Mengubah ekspresi wajah sesuai dengan pernyataan




3.
Berbicara dengan kata-kata yang jelas




4.
Tidak mengulang-ulang pernyataan




5.
Berbicara cukup keras untuk didengar penonton





2.     Pengolahan Hasil Tes PAP dan Hasil Tes PAN
a       Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penyelenggaraan tes dalam hal ini lebih mengarah kepada penguasan kompetensi. Maka penilaian acuan patokan ini berusaha mengukur tingkat pencapaian tujuan oleh para siswa. Siswa yang tidak mencapai tujuan yang telah ditetapkan berarti dia gagal, artinya pengajaran yang diberikan belum berhasil. Sehingga disini terlihat apakah siswa sudah atau belum mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dengan kata lain, penilaian ini mengutamakan apa yang dapat dilakukan oleh siswa, kemampuan-kemampuan apa yang sudah dan belum dicapai setelah mereka menyelesaikan satu bagian kecil dari keseluruhan program. Penilaian Acuan Patokan ini tidak membandingkan satu siswa dengan siswa lainnya, tetapi membandingkan dengan standar tujuan yang harus dicapai/indikator pencapaian.
Melalui pendekatan ini, maka guru dapat mengambil keputusan tindakan pengajaran. Jika hasil belajar siswa belum mencapai tujuan dengan kriteria 85% dari target yang diharapkan, berarti pengajaran itu gagal dan harus diulang kembali. Untuk itu tes yang disusun hendaknya menggambarkan keseluruhan bahan pengajaran, atau keseluruhan tujuan pengajaran.
Sebagai gambaran dalam menetapkan besar kecilnya persentase untuk menetapkan nilai dari penilaian acuan ini sebagaimana dikatakan oleh Chatib Thoha dalam bukunya Teknik Evaluasi Pendidikan sebagai berikut:
Taraf Penguasan
Kualifikasi
Nilai Huruf
Angka Kualitas
91-100%
Memuaskan
A
4
81-90%
Baik
B
3
71-80%
Cukup
C
2
61-70%
Kurang
D
1
Kurang 60%
Gagal
E
0

Tinggi rendahnya persentase yang dituntut oleh pendidik untuk dikuasai oleh peserta didik tergantung penting tidaknya bahan tersebut untuk dikuasai oleh peserta didik. Bila semangkin penting maka persentasenya semakin tinggi, sebaliknya jika bahannya kurang penting maka persentasenya makin rendah. Penting tidaknya bahan pengajaran yang dikuasai peserta didik dapat dilihat dari seberaa jauh kontribusi mata pelajaran itu untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas.
Penilaian Acuan Patokan ini didasari oleh beberapa asumsi sebagaimana yang di ungkap oleh Anas Sudjiono[4] yang dapat di simpulkan antara lain:
1)     Siswa tidak dapat melanjutkan pokok bahasan sebelum siswa itu mengerti dan memahami materi yang sebelumnya secara konseptual.
2)     Evaluator dapat mengidentifikasi masing-masing taraf kemampuan yang di kehendaki sampai tuntas, paling tidak mendekati ketuntasan sehingga  dapat disusun alat pengukur atau penilaiannya.
Menurut Chatib Thoha[5], penilaian beracuan kriteria berdasarkan asumsi “paedagogik” maksudnya pendidikan didasarkan atas pertimbangan bahwa keragaman kemampuan peserta didik hendaknya dapat dikurangi, hal ini berarti seorang pendidik harus bisa memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi dan membantu yang lemah. Peserta didik memiliki motivasi yang kuat untuk belajar, sehingga ada perbedaan kemampuan antara sebelum dan sesudah belajar. Pendidik dalam mengembangkan proses belajar mengajar harus menyajikan materi dan  metode yang sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa Penilaian Acuan Patokan ini cocok diterapkan untuk melihat kompetensi paedagogik peserta didik, karena pendidik dan peserta didik memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran, betapapun hebatnya pendidik dalam mengajar kalau peserta didik mempunyai motivasi yang rendah dalam belajar tentu hasilnya kurang memuaskan, maka untuk mencapai hasil yang maksimal kedua komponen tersebut harus bekerja secara maksimal sesuai dengan perannya masing-masing. Sebaliknya penilain berdasarkan acuan patokan ini kurang tepat digunakan dalam pengolahan dan penentuan nilai hasil tes sumatif seperti ulangan umum dalam rangka mengisi rapor.
Adapun diantara kelemahan dari penilaian acuan patokan ini adalah:
1)     Tidak mempertimbangkan  kemampuan kelompok (rata-rata kelas), jadi besar kemungkinan ada siswa yang tidak dapat dinyatakan lulus atau naik kelas
2)     Apabila butir-butir soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar terlalu sukar, maka dalam tes tersebut betapapun pintarnya testee akan memperoleh yang rendah, sebaliknya apabila butir-butir soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar terlalu mudah maka betapapun bodohnya testee akan berhasil memperoleh nilai yang tinggi, sehingga gambaran yang sebenarnya tentang tingkat kemampuan testee tidak dapat diketahuai.
b.       Penilaian Acuan Norma (PAN)
Istilah lain dari penilaian acuan norma dikenal juga dengan penilaian acuan kelompok (PAK) karena penilaian ini bertujuan untuk menentukan kedudukan peserta didik dari peserta didik yang di nilai atau penilaian yang mendasarkan diri pada standar relatif, artinya menentukan hasil tes diperbandingkan  dengan skor peserta didik tes yang lain, sehingga kualitas yang dimiliki oleh peserta didik tes akan sangat tergantung kepada kualiatas kelompoknya. Penilaian ini mendasarkan diri pada asumsi[6], yaitu:
1)     Psikologis, artinya tidak semua peserta didik memiliki kemampuan yang sama, adanya perbedaan kemampuan intelegensi question (IQ), latar belajar pendidikan, status sosial orang tua, lingkungan sosial, jenis kelamin, dan sebagainya. Namun apabila kergaman itu ditarik dari penelitian atas sejumlah sample akan memberikan gambaran yang mebentuk normal yaitu sebagian besar akan berada pada daerah mean, sedangkan sebagian kecil akan berada di daerah ekor kanan dan ekor kiri dalam posisi yang berimbang.
2)     Tujuan penilaian hasil belajar adalah untuk melihat dan menentukan kedudukan seorang peserta didik dari teman atau kelompoknya, apakah ia berada pada posisi atas, tengah  atau di bawah.
3)     Penilaian ini digunakan apabila pendidik menghadapi kurikulum yang bersifat dinamis, artinya materi pelajaran yang dikembangkan selalu berobah sesuai dengan ketentuan zaman, sehingga pendidik agak sulit menetapkan kriteria benar atau salah.
4)     Penggunaan acuan ini sangat dependen dengan jenis kelompok, tempat dan waktu. Kelompok yang homogen akan berbeda dengan kelompok yang heterogen, kelompok belajar di kota akan berbeda dengan kelompok belajar di daerah terpencil. oleh karena itu penilaian acuan norma ini adalah penilaian kemampuan rata-rata kelompok, kemudian individu diukur seberapa jauh penyimpangan terhadap rata-rata tersebut, hal ini berarti tes tersebut dapat memberikan gambaran diskriminatif antara jemampuan peserta didik yang pandai dengan yang bodoh.
Dari kedua acuan tersebut diatas dapat dibedakan penilaian beracuan patokan dan penilaian beracuan norma sebagai berikut:
1)     Penilaian acuan norma
a)     Berfungsi untuk menetapkan kedudukan relatif seorang siswa di dalam kelas
b)     Tujuan pemebelajaran dinyatakan secara umum atau secara khusus
c)     Belajar tuntas tidak begitu diutamakan
d)     Tes (pertanyaan) harus mencangkup tingkat kesukaran yang berpariasi dari yang mudah, sedang dan sulit.
e)     Hasil penilaian dapat ditransformasi dalam skala huruf A, B, C, D dan E
f)      Tepat dipakai untuk tes penempatan dan tes sumatif
2)     Penilaian acuan patokan
a)     Berfungsi dalan menetapkan apakah murid telah mencapai atau telah menguasai tujuan atau kemampuan yang diharapkan
b)     Tujuan pembelajaran harus dinyatakan secara kusus
c)     Sangat diutamakan adanya belajar tuntas sehingga perlu dinyatakan standar tingkat keberasilan tujuan pembelajaran
d)     Penyusunan soal lebih mengutamakan pada feformance dan kemampuan yang harus di kuasai
e)     Tepat dipakai untuk tes formatif
f)      Hasil penilaian tepat dinyatakan dalam bentuk pernyataan sangat memuaskan, memuaskan, cukup, kurang dan gagal.












C.    Penutup
1.     Kesimpulan
   Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.
              Adapun Penilaian Acuan Patokan yang dikenal juga dengan standar mutlak berusaha menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan patokan yang telah ditetapkan. Sebelum hasil tes diperoleh atau bahkan sebelum kegiatan pengajaran dilakukan, patokan yang akan dipergunakan untuk menentukan kelulusan harus sudah ditetapkan.          
              Sedangkan penilaian acuan norma yaitu penilaian yang bertujuan untuk menentukan kedudukan peserta didik dari peserta didik yang di nilai atau penilaian yang mendasarkan diri pada standar relatif, artinya menentukan hasil tes diperbandingkan  dengan skor peserta didik tes yang lain, sehingga kualitas yang dimiliki oleh peserta didik tPes akan sangat tergantung kepada kualiatas kelompoknya.  
2.    Pesan
               Dengan hadirnya makalah ini di hadapan pembaca, semoga dapat menjadi acuan dalam membahas tentang penilaian hasil belajar dengan menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Penilaian Acuan Norma (PAN), serta dapat menjadi motivasi hendaknya untuk mengkaji lebih jauh mengenai penilaian hasil belajar dengan menggunakan Penilaian Acuan Patokan tersebut. Amin


                                                                                                        
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

Sudjiono Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996

Diakses dari http// wordpress. Evaluasi. Com
Thoha Chatib, Teknik Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994



               [1] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) h. 182
               [2] Anas Sudjiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996) h. 58
               [3] Diakses dari http// wordpress. Evaluasi. Com [3]
               [4]Anas Sudjiono, Op cit,  h. 314
               [5] Chatib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994) h. 70
               [6] Anas Sudjiono, Op cit,  h.323-326

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar